KESUKSESAN = GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL + GAGAL
Tidak peduli berapa kali kamu akan gagal, kegagalan sesungguhnya adalah ketika kamu berhenti untuk mencoba. Dalam kehidupan, kegagalan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses mencapai kesuksesan. Nabi Muhammad SAW memberi teladan bagaimana semestinya kegagalan dan kesuksesan disikapi. Sebagai manusia, beliau juga pernah mengalami kegagalan, di samping aneka kesuksesan. Yang berbeda adalah bagaimana beliau menyikapi setiap kesuksesan dan kegagalan dalam hidup dan perjuangannya.
Pada abad ke-7, Mekkah dikepung oleh dua peradaban besar, Romawi dan Persia. Dua poros kekuatan dunia dengan tradisi keagamaan yang berbeda ini—Romawi simbol kekuatan Kristen, sementara Persia penganut Zoroasterisme—sekian lama telah terlibat dalam ketegangan. Pada tahun 614 Masehi, Kisra II, penguasa Sasaniyah Persia, memobilisasi pasukannya menuju wilayah Romawi Timur, sehingga dua peradaban besar itu benar-benar terlibat pertempuran besar. Dalam peperangan tersebut, Persia berhasil menaklukkan Romawi dan untuk sesaat mengantarkan imperium cikal bakal Iran itu sebagai pemegang supremasi tunggal peradaban dunia.
Kemenangan Persia ini ternyata berimbas ke Mekkah; orang-orang Kristen di Mekkah menjadi sasaran olok-olok para paganis yang secara teologis merasa lebih dekat dengan kepercayaan Zoroaster atau majusi. Tidak hanya orang Kristen yang mengalami perundungan, umat Islam mengalami hal serupa. Baik Kristen maupun Islam, sama-sama agama samawi, sehingga orang Islam merasa lebih dekat dengan orang Kristen daripada komunitas watsani.
Faktanya, seperti diceritakan Muhammad Husein Haikal dalam Hayatu Muhammad, kekalahan Romawi juga menjadi keprihatinan umat Islam. Boleh dikatakan, kekalahan Romawi Kristen secara psikologis menjadi kekalahan pertama yang dirasakan oleh umat Islam. Insinuasi semakin kencang ditujukan kepada Nabi Muhammad dan para sahabat akibat kekalahan Romawi. Di saat menderita ‘kekalahan’ ini, Nabi Muhammad tidak lantas kecil hati. Beliau membangun optimisme dalam diri, bahwa kekalahan ini hanya sementara, dan kemenangan Romawi tinggal menunggu tiba.
Karena itu, ketika Nabi mendengar bahwa Abu Bakar ‘bertaruh’ sepuluh unta untuk kemenangan kembali Romawi, Nabi justru memerintahkannya untuk menambah besaran menjadi seratus ekor unta. Dari optimisme nabi, Romawi berhasil revans. Di bawah Heraklius, Romawi berhasil menumbangkan kekuatan Persia pada tahun 625 Masehi. Prediksi akan kemenangan Romawi ini, sebagaimana diyakini Nabi Muhammad, ternyata mendapat pengabaran dari Allah SWT melalui surat Ar-Rum.
Berbesar hati di saat menderita kegagalan seraya membangun optimisme adalah pesan yang bisa kita petik dari sejarah di atas. Boleh jadi tampak lahirnya adalah kegagalan, namun sejatinya kegagalan tersebut adalah satu repihan dari kesemestaan kemenangan. Di samping itu, di saat gagal, nabi tetap rasional dan tidak kehilangan nilai adiluhungnya. Kekalahan yang diderita Nabi Muhammad dan umat Islam saat perang Uhud memberikan pesan berharga, bagaimana amarah tidak semestinya melipurkan kerasionalan.
Seperti kita ketahui, perang Uhud adalah salah satu peperangan terbesar. Saat itu, umat Islam menderita kekalahan di dalamnya. Mengutip Al-Waqidi dalam magnum opusnya Kitab al-Maghazi, Rasulullah SAW terjun sendiri ke medan peperangan sebanyak 27 kali. Sementara peperangan yang tidak diikuti oleh beliau secara langsung sebanyak 47 kali. Perang yang diikuti nabi disebut ghazawah, sementara yang tidak dikutinya disebut saraya.
Dari seluruh peperangan tersebut, tidak semuanya berakhir dalam medan tempur. Dan dari semua yang diselesaikan di medan tempur, tidak semuanya dimenangkan umat Islam. Perang Uhud adalah salah satu perang yang tidak berhasil dimenangkan oleh umat Islam. Kekalahan dalam perang Uhud menyisakan luka yang sangat mendalam bagi Nabi. Salah seorang paman tercintanya, Sayyidina Hamzah bin Abdil Muthalib, menjadi martir dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Melihat betapa sadisnya Sayyidina Hamzah dibunuh, Nabi larut dalam amarah.
Sirah Ibnu Hisyam menceritakan bagaimana sedihnya Nabi melihat kondisi pamandanya. Nabi menggambarkan apa yang dialaminya sebagai kepedihan terbesar yang belum pernah beliau alami sebelumnya. Dengan amarah yang memuncak, Nabi pun bertekad membalas dendam, seraya berjanji akan memberikan ‘luka’ yang sama kepada 30 orang Qurays di peperangan berikutnya. Menurut riwayat Abdullah bin Abbas, Allah SWT kemudian menurunkan ayat 126 surat An-Nahl yang meluruskan visi pembalasan dendam Nabi. Karena itulah, Nabi meralat janji pengasamannya yang dipenuhi amarah, serta menyuruh para sahabatnya untuk tabah menerima suratan dari yang Maha Kuasa. Tidak hanya menyerukan sabar dan melarang pembalasan dendam, Nabi juga memerintahkan sahabatnya untuk bersedekah.
Di sinilah sikap adiluhung Nabi terlihat, di saat kegagalan berada di pihaknya. Kekalahan tidak membuat beliau alpa, bahkan dijadikannya hal ini momentum mereparasi mutu diri dengan laku sedekah. Sungguh luar biasa. Sementara ketika kemenangan diraih, Nabi tidak lantas larut berlebihan dalam suka cita. Apalagi menjadikannya sarana pelampiasan dendam semata. Jika dalam momen kegagalan akhlak mulia Nabi tetap menyala, maka dalam kemenangan, nyalanya tentu semakin cerah.
Kemenangan dan kesuksesan adalah awal dari perjuangan yang semakin besar. Maka, tugas maha berat mengiringi setiap momen kesuksesan. Dalam kitab Faydhul Qadir Syarh al-Jami’i al-Shaghir, disebutkan riwayat Jabir yang menceritakan kata-kata penyambutan Nabi kepada para sahabat yang baru datang dari peperangan. Nabi bersabda: “Kalian datang dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar, (yaitu) perjuangan hamba melawan nafsunya.”
Demikianlah, Nabi tidak menyambut para sahabat dengan pariwara kemenangan, melainkan peringatan dini (early warning) bahwa tugas yang lebih besar menunggu di depan. Maka, tidak ada waktu tenggelam dalam euforia kemenangan, agar tidak terhempas dalam kemenangan. Kita wajib hirau, bahwa ada kekalahan dalam kemenangan.
Al-Qur'an sendiri mengajarkan kita tentang pentingnya ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi kegagalan dan kesuksesan. Dalam surah Al-Insyirah ayat 6, Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." Ayat ini menekankan bahwa setiap kesulitan pasti disertai dengan kemudahan, dan setiap kegagalan membawa potensi kesuksesan jika kita terus berusaha.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR Al-Hakim). Hadis ini mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi lebih baik setiap harinya, dan tidak berpuas diri dengan pencapaian yang ada.
Belajar dari kegagalan, membangun optimisme, dan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur adalah kunci untuk mencapai kesuksesan sejati. Mari kita jadikan setiap kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan, dengan tetap berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. Semoga kita selalu diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang datang.
Kesimpulan
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju kesuksesan. Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan bagaimana menyikapi kegagalan dengan optimisme dan kesabaran. Kunci utama dalam menghadapi kegagalan adalah tidak menyerah, terus berusaha, dan selalu bersandar kepada Allah SWT.
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah yang telah disampaikan dan selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Kegagalan adalah guru terbaik yang mengajarkan kita untuk bangkit dan berusaha lebih keras lagi. Dengan demikian, kesuksesan yang hakiki dapat kita raih, baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.
Pusat Informasi SDIT Insan Cendikia Tenggarong Seberang
Alamat:
Tenggarong Seberang, L3 Blok A Desa Bangun Rejo RT.33
Kontak PPDB 2023-2025 :
Ustdzah Ainun Mardiah,S,Pd : 0822-5110-3350
Ustad Difan Sulaiman,S.Pd 0821-8886-9602 https://wa.me/qr/T54XQPGHOTCMG1
Akun Media Social :
Istagram : https://www.instagram.com/sditisancendikia/
Facebook : https://www.facebook.com/sditic.tenggarongseberang
Youtube : https://youtube.com/@insancendikiatv?si=AE_luR8izTyrR6Fq
Jam Operasional:
Senin - Jumat: 07.00 - 15.00 WITA
Sabtu: 08.00 - 12.00 WITA
Maps Sekolah : https://maps.app.goo.gl/DkvYqVS9PR3MWXDr8
.png)
Komentar
Posting Komentar